//*

IBD : R.A Kartini

| Sabtu, 03 Juni 2017
Judul Buku : R.A Kartini
Biografi Singkat 1879-1904
Nama Pengarang : Imron Rosyadi

 
Kartini adalah seorang perempuan pejuang harkat wanita agar tidak terpasung dalam tembok tradisi masyarakat Jawa yang begitu kukuh membatasi ruang geraknya. Ia ingin membebaskan penderitaan wanita dari tradisi pelarangan belajar, pingitan, hingga harus siap dipoligami oleh suami dengan alih-alih berbakti. Kartini ingin mengubah tradisi ini demi kemajuan kaumnya mengangkat derajat perempuan, menuju masa depan yang lebih cerdas, bebas, cemerlang, dan merdeka. Untuk itu, ia berusaha mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan yang secara tidak langsung akan meningkatkan martabat bangsa. Sebab, “Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata.” -Pramoedya Ananta Toer-
 Kartini lahir di Mayong, Jepara, 21 April 1879. Ia lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya adalah seorang Bupati Jepara, yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedangkan ibunya bernama M. A. Ngasirah. Ayahanda R. A. Kartini (Sosroningrat) adalah bupati berpendidikan yang pandai menulis dan berbahasa Belanda. Sehingga tak heran jika seorang sejarahwa M.C. Ricklefs menyebut ayahanda Kartini sebagai “one of the most enlightened of Java’s Bupatis” (salah satu bupati yang berpikiran maju di Jawa).
Kala itu, pemerintah kolonial mengharuskan seorang bupati memperistri perempuan yang berlatar belakang bangsawan. Sedangkan ibunda Kartini (Ngasirah) bukan lah bangsawan, sehingga Ayahanda Kartini (Sosroningrat) menikah lagi dengan Raden Ayu Muryam yang merupakan keturunan Raja Madura. Istri kedua inilah yang kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil. Keadaan ini mengharuskan Kartini menerima kehadiran ibu dan saudara-saudara tiri di sampingnya. Seluruh keluh kesah dan penderitaannya ia tuangkan dalam surat tertanggal 21 Desember tahun 1900.
Kartini adalah figur seorang wanita idealis yang visioner. Ia selalu mendambakan dan memperjuangkan nasib wanita supaya dapat mengaktualisasi diri melalui pendidikan yang maksimal. Ia mampu membagi visi, melakukan lobi-lobi, dan membina kerja sama dengan orang-orang yang berpengaruh. Ia aktif menulis surat dengan sahabat penanya yang sebagian besar adalah orang Belanda. Sahabat pena Kartini seperti: Stella M. Zeehandelaar (seorang aktivis gerakan sosialis di Belanda), Ir. H.H Van Kol (tokoh sosialis Belanda) dan nyonya, Nyonya M.C.E Ovink (istri asisten residen yang pernah bertugas di Jepara), Dr. N. Adriani (ahli Bahasa), Nyonya Civink Soer, Tuan Prof. Anton dan Nyonya, Tuan E. C Abendanon (direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda) dan Nyonya, serta Nina Zeehandelar.
Selain surat menyurat Kartini juga banyak belajar dari buku-buku Eropa, karena ia tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Buku yang ia baca seperti, Max Hevelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht karya Louis Coperus, buku bermutu tinggi karya Van Eeden, buku karya Augusta de Witt, buku roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek, dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder. Dari buku-buku itulah timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, di saat kondisi sosial perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Pada Juni 1903, Kartini memasuki usia 24 tahun. Tiba-tiba ayahandanya (Bupati Sosroningrat) menerima utusan Bupati Djojo Adiningrat dari Rembang yang membawa surat lamaran untuk Kartini. Kartini tak berdaya menghadapi cobaan ini. Ia harus menyetujui saran ayahnya untuk menikah karena kedua bupati ini saling mengenal baik. Toh di Rembang Kartini masih bisa meneruskan cita-citanya untuk membuka sekolah. Ironisnya, sang bupati calon suami Kartini sudah mempunyai tujuh anak, dan masih memiliki dua istri, seorang Raden Ayu, telah meninggal dunia, sementara dua istrinya bukan dari kalangan bangsawan. Karena itu, ia ingin menikahi Kartini, untuk menggantikan posisi istri pertamanya.
Pengalaman hidup Kartini yang penuh pertentangan antara cita-cita dan kenyataan berhasil memaksanya untuk merumuskan ulang dirinya dalam menerima kenyataan. Pernikah poligami ini contohnya. Setelah menjadi istri Bupati Rembang, hari-harinya tak ubahnya istri biasa; mengurus suami dan anak (tirinya). Ia memang mendirikan sekolah, tapi tak seberhasil ketika di Jepara. Pada 13 September 1904 ia melahirkan anak yang dinamai Soesalit. Empat hari kemudian, pada 17 September 1904, Kartini menghembusakan napas terakhir akibat proses melahirkan yang tak mulus. Seperti apa yang ia ramalkan sendiri, melepas cita-cita memang benar-benar membuatnya binasa

Nilai-nilai yang terdapat pada buku ini adalah sebagai berikut.


Menghormati orangtua
Walapun memiliki pemikiran sendiri, RA Kartini tetap menghormati kepustusan orangtuanya. Salah satu buktinya ia enuruti permintaan orangtuanya untuk tidak melanjutkan sekolah. Baginya bila menuruti kata hatinya, itu berarti merusakkan hati orangtuanya.

Selalu optimis dan melihat kedepan
Ketika orang memandang suatu cita – cita degan segala keadaan dengan baik dan tidak berburuk sangka, tidak mudah lemah akan cita – citanya maka, RA Kartini percaya cita- cita tersebut akan dapat tercapat. Beliau orang yang selalu mengagung – agungkan masa silamnya dan puas dengan pencapaiannya dulu, karena mereka yang mempunyai sifat seperti itu seakan puad dengan hanya membanggakan nenek moyang jaman dahulu.

Sederhana dan Rajin
Dengan pandangannya yang tidak memperdulikan status RA Kartini mudah bergaul dengan siapa saja dan tetap menjalani hidup sederhana walapun merupakan anak seorang bangsawan. Terbukti saat pernikahannya walapun menikah dengan sesame bangsawan RA Kartini memilih tidak mengadakan pesta dan bahkan tidak memakai pakaian pengantin. Baginya hidup dalam kesederhanaan, kehematan akan mencegah kesengsaraan dimasa mendatang. RA KArtini juga termasuk sosok yang rajin, walapun dia tidak bersekolah tetapi semangat belajarnya masih tinggi dengan membaca buku-buku dan Koran.

0 Komentar:

Next Prev
▲Top▲